Daftar Blog Saya

Minggu, 17 April 2011

SOLUSI ALTERNATIF BERPERANG LAWAN KANKER


Dr Saraswati Subagjo meniupkan asap divine cigarettes
ke telinga pasien. Selain telinga, hidung dan pori-pori kulit
menjadi pintu masuk asap DC sebelum akhirnya merontokkan
elemen radikal bebas seperti merkuri dalam tubuh yang
dicurigai sebagai pencetus kanker dan semua jenis penyakit
mematikan lainnya




Jumat, 12 November 2010 03:11 WIB
MALANG--MICOM: Kanker stadium akut bisa sembuh berkat balur. Balur merupakan proses detoxifikasi pembaluran kulit dengan menggunakan berbagai bahan peluruh radikal bebas yang dikombinasikan dengan asap rokok Divine Cigarettes (DC). Tindakan itu untuk mengangkat merkuri dan logam berbahaya lainnya dari dalam tubuh.

"Asap rokok berbentuk partikel berukuran nano mudah meresap dan menghajar habis radikal bebas, khususnya merkuri dari dalam tubuh," kata Dr Saraswati Subagjo selaku pengelola Rumah Sehat yang menginduk pada Lembaga Penelitian Peluruhan Radikal Bebas di Malang, Jawa Timur.

Bersama sejumlah ahli, ia mengembangkan proses detoxifikasi yang dapat mengangkat racun logam berbahaya seperti merkuri atau air raksa dari tubuh pasien. Dia berpendapat, proses balur dapat dimanfaatkan untuk mengobati kanker dan beberapa penyakit lainnya.

Pada prinsipnya tubuh memiliki kemampuan melakukan self regenerasi maupun self reparasi, dengan cara inilah homeostasis kehidupan normal dapat berjalan. Hal seperti ini menjadi macet atau tidak terjadi pada orang sakit karena proses biologis yang ada tidak efisien khususnya dalam pengelolaan aliran energinya yang ditandai dengan banyaknya tumpukan radikal bebas. Dengan proses balur, pengaturan homeostasis radikal bebas dapat dilakukan, dan pasien dapat lebih cepat dan lebih mudah sembuh.

Menurut Saraswati terdapat beberapa kasus yang menarik, di antaranya sejumlah pasien kanker stadium akhir sembuh secara menakjubkan setelah menjalani perawatan dengan metode balur tersebut. Dulu, katanya, teknik balur selalu diikuti luka di kulit yang mengganggu bagi beberapa orang pasien penyakit degenerasi seperti kanker, jantung koroner, dan lainnya.

Luka-luka tersebut adalah indikator lepasnya radikal bebas melalui kulit. Namun sekarang dengan bantuan asap Divine Cigarette, membuat radikal bebas dapat terlepas (release) dengan cara yang lebih lembut, tidak menghasilkan luka yang mengganggu dan cairan limbah balurnya cenderung tidak bau. 'Ini adalah hasil proses kajian dengan mengandalkan pengetahuan Nano Sains, sehingga para pasien pun juga merokok Divine Cigarette selama perawatan',akunya.

Hasil metode perawatan yang dilakukan Saraswati tersebut diakui pakar biologi molekul dari Univeritas Brawijaya (UB) Malang yaitu Prof Dr Sutiman B Sumitro. Baik Sutiman dan Saraswati yang semula ragu, kini mendukung metode tersebut setelah istri dan suami kedua pakar itu sembuh dari kanker dengan metode balur.

Sejak itu, mereka ikut mengembangkan kekuatan menyembuhkan dibalik asap Divine Cigarette dan metode perawatan balur tersebut, dengan mendirikan Lembaga Penelitian Peluruhan Radikal Bebas di Malang. Mereka bersama sejumlah ahli bahkan juga membuka klinik perawatan balur yang diberi nama Rumah Sehat pada 2007 di Jalan Surakarta No 5 Malang.

Baik Sutiman maupun Saraswati tidak menentang klaim yang menyebutkan bahwa rokok berbahaya karena mengandung racun. Mereka hanya ingin meluruskan pendapat menyudutkan bahwa nikotin dan tar berpengaruh buruk terhadap kesehatan.

Hipotesisnya, bahwa rokok yang beredar luas di pasaran berbahaya karena mengandung jejak merkuri, unsur logam yang sangat beracun. Menggunakan teori biradikal, Divine Cigarettes dan Divine Filters dibuat dengan mencampurkan agen pemulung aromatik, yakni zat-zat yang dapat bereaksi dan mengangkat molekul dan radikal bebas tertentu, dalam hal ini merkuri atau air raksa.

Kini, mereka menggunakan rokok dan filter divine untuk keperluan kliniknya serta bersama Dr Gretha Zahar dibantu kelompok studi nanosains di Universitas Brawijaya, telah mengembangkan sekitar 40 jenis Divine Cigarettes.

Sutiman B Sumitro mengemukakan, asap Divine Cigarettes dapat mengurai racun dalam tubuh menjadi elemen berukuran kecil skala nano dan kemudian mengeluarkannya dari tubuh. Asap rokok masuk pori-pori dan meninggalkan residu berwarna kecokelatan. Semua bahan yang digunakan dalam metode balur memiliki medan magnet seperti asam amino, urea, kopi, tembaga.

Setelah bergabung dengan polimer asap Divine Cigarette, medan magnitnya menjadi luar biasa tinggi sehingga bisa dimanfaatkan menyapu radikal bebas. Efek asap ini menangkap radikal bebas yang berubah fase menjadi gas yang tidak bisa dilakukan dengan konsep balur semata.

Tubuh manusia, sebutnya, 80 persen berupa air, sehingga kebanyakan proses hidup terjadi dalam bentuk reaksi terlarut air. Namun juga disadari bahwa beberapa proses hidup terjadi dalam fase gas atau fase uap, khususnya reaksi yang melibatkan radikal bebas yang memiliki kecepatan reaksi sangat tinggi (seper miliar detik).

Itu sebabnya proses balur akan lebih baik bila tidak Cuma memakai peluruh berupa cairan, namun juga dikombinasi dengan peluruh dalam fase asap yang diperoleh dari rokok Divine Cigarette. "Balur menggunakan reaksi kimia, tetapi jika ada radikal bebas yang berubah dalam fase gas, hanya bisa ditangkap dengan polimer Divine Cigarette berukuran nano," kata Sutiman B Sumitro.

Ia mengatakan, asap Divine Cigarette tidak menimbulkan luka pada tubuh pasien karena kandungan merkuri yang terikat sudah diperkecil. Sebelum pakai asap, balur seringkali menimbulkan luka. Sekarang lebih efektif karena tanpa luka. Kandungan merkuri dan logam berat lainnya begitu mudah keluar karena dibabat habis asap ukuran polimer dari Divine Cigarette itu tadi. Namanya juga sumber energi, merkuri yang lepas juga melepaskan energi. Itu sebabnya, tubuh pasien terlihat lemas setelah menjalani terapi ini.

Untuk menguatkan kondisi pasien, Dr Gretha Zahar telah mengembangkan kontributor energi dari campuran kopi dan telur. Uji laboratorium baik dalam bentuk eksperimen uji akut maupun kronis campuran kopi telur terhadap ratusan tikus di laboratorium Biologi Sel dan Biologi Molekuler Universitas Brawijaya, hasilnya akhirnya semua tikus sehat dan tanpa efek samping.
Partikulasi Asap Rokok Solusi Tekan Ketergantungan Kedelai Impor

Jumat, 19 November 2010 05:35 WIB
MALANG--MICOM: Peneliti Universitas Islam Malang (Unisma) berhasil memperbaiki kualitas kedelai lewat uji coba laboratorium dengan bantuan asap divine cigarette.

Partikulasi asap yang diperkaya dengan asam amino proline, alanin dan sistein mendorong akar kedelai varietas Burangrang tumbuh sangat cepat, panjang dan lebih kuat. Penemuan ini bisa meningkatkan budi daya kedelai lokal sekaligus memupus ketergantungan impor yang selama ini menjadi momok masyarakat dan perajin tahu/tempe.

"Budidaya kedelai lokal begitu mudah dilakukan dengan bantuan partikulasi asap rokok dan bisa mendongkrak pendapatan petani kedelai," kata peneliti Unisma Ir Tintrim Rahayu MSi.

Pengasapan asam amino dalam Divine Cigarette, imbuhnya, membantu tanaman menjalankan fungsinya dengan baik, meningkatkan produktiVitas pertumbuhan dan perkembangan tanaman, meningkatkan jumlah klorofil sehingga lebih cepat hijau dan meningkatkan aktivitas fotosintensis.

Pengaruh partikulasi asap rokok, jelasnya, memacu jumlah akar lateralnya sangat menonjol ketimbang biji kontrol atau tanpa pengasapan yang jumlahnya hanya 2,4. Sementara dengan partikulasi asap proline (20), alanin (16), sistein (14,2).

Demikian pula ukuran panjang dan diameter hipokotil, biji yang diasapi dua kali lebih panjang ketimbang kedelai kontrol. Akar lateral yang banyak, membuat tanaman lebih kuat dan tahan di lahan minim air, meningkatkan produktifitas seperti mengangkut air dan unsur hara sehingga meminimalkan kematian tanaman oleh sebab kekeringan.

Sementara itu dihubungi terpisah, ahli biologi sel Universitas Brawijaya Malang Prof Dr Sutiman B Sumitro mengemukakan, sistem kehidupan memiliki ide yang diletakkan dalam setiap komponen partikulasi skala 1-100 nanometer. Nano adalah satuan panjang sebesar sepertriliun meter. Ukuran tersebut satu juta kali lebih kecil ketimbang diameter rambut manusia.

"Potensi untuk memperkecil sampai ukuran partikel bahkan level nano, dimungkinkan melalui partikulasi asap rokok. Level nano mempermudah berfungsinya segala proses kehidupan organisme, termasuk tanaman," kata Sutiman B Sumitro.

Dia menyebutkan bahwa asam amino diketahui merupakan penyusun protein yang digunakan untuk proses hidup, dimasukan dalam rokok yang diambil dalam bentuk asap untuk diperkecil sampai ukuran partikel. Pemberian beberapa asam amino dalam partikulasi asap rokok mempengaruhi kecepatan perkecambahan dan pertumbuhan kecambah biji kedelai itu tadi.

Tintrim Rahayu mengemukakan, pemberian asam amino dalam partikulasi asap rokok berpengaruh nyata terhadap panjang akar primer, jumlah akar lateral dan panjang maupun diameter hipokotil. Perkecambahan terjadi karena pertumbuhan radikula (calon akar) dan pertumbuhan plumula (calon batang).

Radikula tumbuh ke bawah menjadi akar sedangkan plumula tumbuh ke atas menjadi batang. Biji kedelai yang sudah diasapi dengan prolin, alanin dan sistein yang telah diperkecil ukurannya dalam partikulasi asap, menjadi gampang menyerap protein untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangannya.

Pemberian prolin, alanin dan sistein dalam partikukasi asap rokok berpengaruh nyata terhadap panjang akar primer dibanding biji kontrol. Beberapa perlakuan yang paling bepengaruh terhadap pertumbuhan panjang akar primer pada prolin adalah 7,7 cm, sistein 6,6 dan alanin 5,8. Sedang pada kontrol panjang akarnya cuma 2,7 cm.